Kebijakan Integrasi Peternakan di Yogyakarta

Layaknya sebuah kota besar lainnya, Kota Yogyakarta memiliki peluang pasar yang besar dalam bidang agribisnis, salah satu indikatornya adalah peningkatan permintaan masyarakat akan kebutuhan bahan pangan. Peluang tersebut harus didukung dengan tersedianya sumber daya alam meliputi lahan dan menurunkan konversi (alih fungsi) lahan pertanian menjadi non-pertanian yang meningkat tiap tahunnya.

Proses ahli fungsi tersebut harus dikendalikan demi keberlanjutan ketersedian bahan pangan. Salah satunya dengan menerapkan Integrated Farming System (IFS) atau sistem pertanian terpadu. “Peningkatan usaha peternak-petani dengan pemanfaatan lahan dan pelestarian lingkungan menjadi awal pemikiran Pemerintahan Yogyakarta dalam mencanangkan program Integrated Farming System (IFS) tahun 2005, kemudian baru melakukan sosialisasi kepada masyarakat tahun 2008 hingga 2009 dan terealisasikan tahun 2010 hingga kini” tutur Pak Tarno selaku Ketua Dinas Peternakan Yogyakarta.

Kota Yogyakarta sendiri telah menerapkan program tersebut di beberapa tempat diantaranya Kecamatan Kalibawang Kulon Progo, Kabupaten Gunung Kidul, Turi dan Cangkringan. Dari beberapa tempat tersebut, dinas peternakan Yogyakarta memfokuskan pada dua titik yaitu daerah Kalibawang dan Kulon Progo. Sebelum mengenal apa itu kebijakan integrasi peternakan di Yogyakarta, alangkah baiknya memahami arti integrasi peternakan terlebih dahulu.

Apa itu integrasi peternakan ?

Integrasi peternakan adalah sistem pengelolaan atau usaha yang menyinkronkan kegiatan sektor peternakan dengan bidang lain seperti pertanian, perikanan dan kehutanan yang masing-masing sektor saling menunjang untuk meningkatkan produksi masing-masing sektor tersebut. Berbagai manfaat dengan adanya integrasi peternakan diantaranya meningkatkan produktivitas ternak, meningkatkan usaha dari suatu lahan dan pelestarian lingkungan. Proses intensifikasi lahan dengan tidak hanya mengembangkan satu komoditas, melainkan beberapa komoditas yang saling berhubungan dan berkesinambungan satu dengan lainnya.

Pemeliharaan ternak terutama dalam manajemen pakan menjadi lebih mudah dengan berdampingannya lahan pertanian maupun perkebunan. Sisa hasil pertanian maupun perkebunan bisa dijadikan pakan bagi ternak, sehingga biaya produksi yang dikeluarkan menjadi efisien. Pemanfaatan limbah ternak bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi pupuk organik guna menyuburkan lahan pertanian dan perkebunan tanpa merusak komposisi tanah secara alamiahnya. Hal itu dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang bisa merusak lingkungan baik dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang.

Bagaimanakah Pola integrasinya?

Pola integrasi di Kota Yogyakarta umumnya adalah setiap ternak dipelihara secara terpadu berdampingan dengan tanaman, dikenal dengan sistem integrasi ternak-tanaman (integrated farming system). Keunggulan dari pola integrasi tersebut adalah potensi ketersediaan pakan dari limbah tanaman cukup besar sepanjang tahun sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan dari luar dan menjamin keberlanjutan usaha peternakan. Kemudian dari kebijakan akan pola tersebut akan memiliki dampak positif terhadap ketersedian pangan di kota Yogyakarta.

Pola integrasi peternakan di kota Yogyakarta dapat dijumpai diantaranya integrasi ternak sapi-tanaman di Kalibawang, Kulon Progo dan integrasi ternak-hutan di kabupaten Gunung Kidul. Kegiatan integrasi di Kalibawang meliputi ternak sapi, pengolahan pupuk, sayuran, tanaman padi, dan perkebunan. Lain halnya di daerah Turi dan Cangkringan, kegiatan integrasi yang dilakukan yaitu usaha ternak dengan tanaman salak pondoh. Dalam hal ini, memanfaatkan limbah salak pondoh sebagai pakan ternak yang sebelumnya di chopping terlebih dulu. Pola integrasi ternak sapi-tanaman sangat menguntungkan karena ternak dapat memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan, selain itu ternak menghasilkan kotoran sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Kebijakan Integrasi Peternakan

Dalam menunjang pembangunan peternakan, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dalam pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri. Upaya ini dilakukan dengan membuka peluang investasi dan pasar sekaligus meningkatkan peran petani-peternak dalam pembangunan peternakan serta memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal. Sehingga diharapakan kebutuhan akan pangan impor berkurang.

Peternakan di Yogyakarta umumnya didominasi oleh peternakan rakyat berskala kecil dan dijalankan sebagai penghasil tambahan. Tahap pengembangan usaha mengalami kendala dalam hal permodalan. Berkaitan dengan hal itu, pada tahun 2011 dan 2012 pemerintah menggulirkan bantuan kepada kelompok ternak guna menunjang usaha peternakan rakyat kecil. Bantuan yang diberikan dalam bentuk paket uang, misalnya untuk setiap paketnya akan diberikan Rp. 300.000.000,- yang akan digunakan untuk membeli ternak. Namun, dikarenakan pelaksanaan di lapangan tidak sesuai harapan, maka di tahun 2014 pemerintah merubah sistem bantuan bagi kelompok ternak yakni bantuan yang diberikan langsung berupa ternak, sehingga pemanfaatannya sesuai dengan tujuan. Harapannya dengan diberikan bantuan tersebut, usaha peternakan rakyat kecil semakin meningkat. Program ini tidak ada undang-undang yang mengaturnya. “Ini hanya inovasi dari model pengolahan lahan”, ujar Pak Tarno saat berbincang dengan tim BPPM Gallusia.

Bagaimana perkembangannya saat ini ?

Menoleh perkembangan dan kejadian akan kebijakan integrasi pada tahun sebelumnya, evaluasi merupakan hal yang perlu dilakukan demi keberlanjutan suatu program. Dari evaluasi tersebut dapat diketahui apa saja yang perlu dibenahi dan ditingkatkan. Dinas Pertanian dan Peternakan Yogyakarta selaku perwakilan pemerintahan telah mengevaluasi program integrasi peternakan tiap tahunnya, dan hasil evaluasi menunjukkan bahwa integrasi yang sudah berjalan beberapa tahun, perkembangannya belum begitu terlihat pesat, karena dalam hal pelaksanaan program tersebut tidaklah mudah. Banyak kendala yang dialami dalam pelaksanaannya.

Program Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Yogyakarta adalah meningkatkan ketahanan pangan, nilai tambah dan daya saing komoditas peternakan, kesejahteraan masyarakat, serta mengembangkan komoditas unggul suatu daerah. Namun, berbagai program tersebut belum berjalan sebagaimana yang telah dicanangkan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan program tersebut, termasuk pihak-pihak yang terkait yakni masyarakat (petani-peternak), pemerintah pusat, dan pemerintah daerah khususnya bidang peternakan dan pertanian. Faktor paling utama adalah dukungan dari pemerintah daerah.

Peran pemerintah daerah wilayah Yogyakarta sangat penting dalam menunjang pembangunan peternakan, sehingga perlu adanya dukungan dalam bentuk komitmen saat pelaksanaan program tersebut. Pemerintah sebagai motivator, akselerator, regulator, fasilitator, dan promotor. Dalam hal ini pemerintah sebagai fasilitator yakni memberikan fasilitas berupa bantuan permodalan dan penyuluhan kepada petani-peternak. Pemerintah daerah juga perlu melakukan mengawali jalannya usaha petani-peternak.

Kendala apa saja yang dialami ?

Realitasnya berbagai kendala yang dihadapi adalah terjadi kesulitan dalam mengalokasikan kegiatan karena masing-masing dinas memiliki fokus dengan kegiatan tersendiri. Bappeda harus bisa berkomitmen untuk bisa menyeragamkan fokus masing-masing bidang, juga menyamakan pervasi dengan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) daerah lain. Masalah lainnya yaitu sumber daya manusia, lahan, permodalan, dan teknologi. Masalah sumber daya manusia dilihat dari silsilah keturunan yang tidak selamanya dalam keluarga tersebut memiliki profesi yang sama sebagai petani ataupun peternak, sehingga keberlanjutan usaha menjadi terhambat. Lahan juga menjadi kendala karena program integrasi peternakan merupakan multi usaha. Jadi, diperlukannya lokasi yang bisa mendukung jalannya semua usaha tersebut, sedangkan untuk mendapatkan lokasi yang sesuai dibutuhkan jangka waktu untuk survei lokasi. Biasanya kendala yang sering dihadapi petani-peternak dalam membangun usaha peternakannya yakni masalah permodalan, karena tidak sedikit biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan usaha tersebut. Di Yogyakarta sendiri untuk masalah permodalan belum ada jaminan lembaga yang menyediakan khusus bagi peternak-petani yang menanganinya. Teknologi yang digunakan masih tradisional, padahal pemerintah sudah memfasilitasi bantuan teknologi untuk memudahkan dalam proses produksinya. Sayangnya, teknologi yang disediakan hanya digunakan saat pelatihan saja. Sebab, dalam pelaksanaannya petani-peternak tidak mau repot dan memilih yang lebih praktis.

Harapannya kepada pelaku dan penentu kebijakan, segala kendala yang dihadapi bisa disikapi dengan baik sehingga kedepannya integrasi peternakan dapat berkelanjutan dan berjalan optimal. Dengan baiknya integrasi peternakan di Yogyakarta, setidaknya kebutuhan akan bahan pangan impor dapat dibatasi, sehingga cita-cita akan kedaulatan pangan bukanlah angan-angan belaka. (Anna dan Farras/ Galusia Edisi XXIX)

Iklan

Menuju Pertanian Berkelanjutan “Petani tak butuh di Gurui”

Penggunaan pupuk kimia di tingkat petani menurut data Badan Pusat Statistik dalam Struktur Ongkos Usaha Tani (SOUT) 2011 merupakan pengeluaran terbesar ketiga setelah biaya upah pekerja dan sewa lahan. Pada empat komoditas tanaman pangan yakni padi sawah, padi ladang, jagung dan kedelai, masing-masing menempati prosentase 14,13%; 13,34%; 16,64% dan 11,08% untuk biaya pupuk. Dalam tahap menuju sistem pertanian berkelanjutan, biaya pupuk sebagai ongkos terbesar ketiga juga berlaku pada komoditas lain seperti kacang tanah, kacang hijau dan ubi jalar. Meski kebutuhan nutrisi tambahan untuk tanaman merupakan hal yang penting, penggunaan pupuk yang tidak sesuai dosis justru akan menimbulkan kerugian. Selain mengubah keseimbangan hara tanah, pupuk berlebih juga dapat mengkibatkan ketergantungan dan kelainan pada tanaman. Selain itu, ketergantungan lahan dan tanaman terhadap pupuk juga mengakibatkan membengkaknya biaya produksi.

Sebagai negara agraris terbesar di dunia, petani di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama wilayah Jawa memiliki mindset bahwa pemberian pupuk dan pestisida pada tanaman budidaya mereka jika tidak banyak dan rutin akan terasa kurang mantap. Fakta di lapangan menunjukkan banyak petani yang memupuk tanamannya menggunakan dengan dosis tinggi dan dalam frekuensi yang sangat sering. Anjurannya, penggunaan pupuk dan pestisida jika tidak dikelola dengan tepat, akan berdampak ekologis dan agronomis bahkan tanpa disadari penggunaan demikian akan meningkatkan biaya produksi.

Sesuai dengan prinsip dalam sistem pertanian berkelanjutan, petani berangsur-angsur di ajak kembali pada kearifan lokal seperti penggunaan pupuk organik, meski baru sekitar 5% petani mau menggunakan pupuk organik menurut Arifin Tasrif, Dirut PT Pupuk Indonesia pada 2012 yang dilansir lensaindonesia.com. Penggunaan pupuk organik relatif lebih mudah dan murah pada kisaran dan keadaan tertentu. Pembuatan dan pengaplikasian pupuk kompos dan pupuk kandang yang sudah banyak diketahui masyarakat sebenarnya memudahkan program pengurangan penggunaan pupuk kimia berlebih. Namun walau sudah memasyarakat, masih ada sebagian petani yang belum tahu cara membuat dan mengaplikasikan pupuk organik. Panut, Ketua Kelompok Tani di Kecamatan Sewon, Bantul, ketika didatangi sekelompok mahasiswa Fakultas Pertanian UGM pada 2013, mengaku bahwa ia dan teman-temannya belum bisa mengolah pupuk kotoran sapi bantuan dari Pemerintah Kabuaten Bantul yang mereka ternakkan bersama.

Menurut Panut, kotoran yang mereka aplikasikan langsung pada padi di sawah justru mengganggu pertumbuhan padi. Akhirnya kotoran sapi dijual ke daerah Temanggung. Kelompok mahasiswa menduga bahwa kotoran sapi yang belum terolah masih memiliki kadar pH rendah sehingga menganggu pertumbuhan tanaman padi. Hal ini menujukkan bahwa tidak semua petani memahami cara mengolah pupuk organik dengan tepat. Perlu adanya pendampingan intensif untuk para petani oleh pihak-pihak seperti pemerintah, dalam hal ini penyuluh lapangan, juga mahasiswa dan dosen atau ilmuan sebagai pihak akademisi yang berkontribusi.

Konsep pendampingan pada pengembangan pertanian di kalangan petani oleh akademisi dan pemerintah menurut beberapa dosen Fakultas Pertanian UGM bukanlah proses mengajari petani dan memposisikan petani seolah semua petani belum tahu apa-apa. Pada dasarnya petani lebih berpengalaman mengatasi lahan dan tanamannya, serta lebih sering mencari solusi sendiri. Mereka biasa berbagi dengan petani lainnya tentang masalah yang dihadapi, tentunya juga saling berbagi ilmu baru yang didapat. Konsep pertanian berkelanjutan yang menjurus pada penggunaan pupuk dan pestisida alami sudah banyak dipahami oleh sebagian besar petani. Inovasi ‘beternak nyambi bertani’ juga sudah banyak dipraktekkan dengan penekanan pada pemanfaatan kotoran ternak untuk pupuk tanaman.

Dilihat dari satu sudut pandang, Panut dan teman-temannya tidak paham soal pupuk kandang, petani binaan salah satu dosen Faperta, Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si menjelaskan bahwa di wilayah Sleman sudah menemukan cara membuat pupuk organik cair yang memanfaatkan mikrobia pada rumen sapi. Petani tersebut membeli rumen sapi saat diadakan penyembelihan Hari Raya Qurban. “Kita jangan menggurui petani, mereka lebih luar biasa dari kita. Jika di lapangan saya malah yang lebih banyak bertanya pada mereka”, tuturnya pada suatu perkuliahan.

Menurut Susetya, saat akademisi ingin mengadakan suatu program pengabdian, seperti Program Kerja KKN contohnya, alangkah lebih baik jika mahasiswa menawarkan relasi dan berperan sebagai fasilitator bagi petani, bukan yang mengajari petani. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam perwujudan sistem pertanian berkelanjutan, perlu adanya pengubahan kebiasaan yang kurang sesuai dengan visi pertanian berkelanjutan itu sendiri seperti penggunaan pupuk kimia yang kurang bijak. Solusi konvensionalnya adalah dengan beralih ke pupuk organik yang lebih murah dan ramah lingkungan. Namun perlu ada pendampingan intensif untuk mendukung inovasi petani dan juga pemberian motivasi serta pemahaman tentang bercocok tanam yang tepat ekologis, agronomis dan ekonomis kepada petani. Untuk mewujudkannya diperlukan adanya sinergitas yang erat antara pemerintah dan akademisi yang expert di bidang yang bersangkutan secara langsung seperti pertanian, peternakan, tata niaga, teknologi dan lingkungan (Sayyida Ikrima/ Primordia/ Galusia Edisi XXIX).

Tantangan dan Peluang untuk Integrasi Pertanian-Peternakan

Perkembangan agroindustri seiring dengan banyaknya penerapan integrasi pertanian-peternakan berdampak terhadap perilaku dan peraturan yang digunakan di farm selama satu dekade terakhir. Dampak tersebut dapat terlihat dengan kesuburan tanah, struktur tanah, gulma, hama dan sebagainya. Meskipun harus menghadapi kesulitan seperti sejumlah tantangan dan peluang yang terkait, cenderung sangat mempengaruhi tingkat dan sifat dari integrasi pertanian dan peternakan. Beberapa hal yang patut dicermati terhadap dampak dan tantangan integrasi pertanian-peternakan diantaranya adalah :

Ketentuan Perdagangan

Memahami tantangan masa depan yang akan dihadapi oleh pelaku integrasi pertanian-peternakan adalah kepastian terdekat bahwa praktek dan strategi saat ini cukup untuk masa depan karena tren yang sedang menurun dalam aspek perdagangan. Saat tren umumnya mengalami penurunan, keputusan farm akan lebih dipengaruhi oleh perubahan relatif pada biaya input dan harga dari komponen pokok perusahaan yang mungkin tidak semuanya mengalami penurunan pada tingkat seragam. Tren seperti itu jika terus menerus terjadi maka akan berpengaruh pada penyeimbangan kembali rasio dari tanaman pakan yang mendukung peningkatan tanaman pakan.

Kebutuhan untuk Inovasi dan Diversifikasi

Produktivitas dan keuntungan dari sistem pertanian mempunyai tantangan berupa tekanan dan bahaya dari makhluk hidup, pengurangan sumber daya, dan ketentuan perdagangan yang kurang baik. Menyikapi hal tersebut, diperlukan inovasi bersifat berkelanjutan. Hasil yang didapat dengan menggunakan inovasi dapat meningkatkan keuntungan yang diperoleh farm. Inovasi juga terus menerus dilakukan terhadap integrasi yang lebih baik dan lebih menguntungkan dengan terus mencari kombinasi tanaman-ternak yang lebih menguntungkan dan juga dapat mencari cara untuk meningkatkan keuntungan dari integrasi yang sudah ada. Sistem produksi tanaman-ternak di masa lalu telah berevolusi dengan cepat untuk mengadopsi inovasi dan peningkatan keanekaragaman. Pengenalan tanaman alternatif seperti pulses dan oilseeds telah menjadi unsur utama dari peningkatan produktivitas

Gulma tahan herbisida

Gulma yang tahan terhadap herbisida terbentuk karena kebiasaan penggunaan herbisida yang digunakan terus menerus. Pencegahan penggunaan senyawa kimia tersebut memerlukan strategi manajemen gulma yang melibatkan integrasi berbagai teknik pengendalian gulma yang berbeda. Sebuah pilihan utama di antara strategi tersebut adalah pengenalan fase padang rumput ke fase tanaman berurutan. Hal ini memungkinkan populasi gulma akan secara drastis dikurangi dengan menggunakan kombinasi perawatan yang melibatkan budidaya, herbisida selektif dan non-selektif, penggembalaan dan pemotongan rumput. Variasi alami dalam palatabilitas antara tanaman rumput dapat digunakan untuk memperkuat dampak pengendalian gulma pada sistem penggembalaan. Penaburan spesies dengan palatabilitas rendah dibandingkan dengan target gulma mendorong penghapusan gulma selektif dan meningkatkan persaingan dari tanaman yang ditanam

Sistem produksi yang berkelanjutan

Peningkatan penggunaan tanaman tahunan telah banyak dianjurkan karena keuntungan yang berkelanjutan yang luas dengan dampak yang sangat positif pada penggaraman dan pengasaman tanah. Dalam jangka pendek dan menengah, penanaman tanaman tahunan dalam skala besar cenderung terkait kepada sistem produksi ternak karena kurangnya pilihan. Adopsi pada masa mendatang tanaman tahunan akan didorong oleh ketersediaan teknologi dan keuntungannya.

Merespon variasi iklim

Sistem produksi campuran tanaman-ternak mewujudkan elemen yang mengurangi resiko musiman, tetapi pengurangan resiko mungkin dilakukan dengan keputusan taktis yang dibuat untuk menanggapi munculnya pengaruh iklim. Produsen biasanya menyesuaikan tingkat dan sifat program panen mereka dalam menanggapi kondisi sebelum dan sesudah penaburan, demikian pula menyesuaikan tingkat input, khususnya pupuk N. (Panji/ Galusia Edisi XXIX)

Cara Menanam dan Budidaya Rumput Odot Untuk Pakan Ternak

Cara Menanam dan Budidaya Rumput Odot Untuk Pakan Ternak Dengan Mudah Bagi Pemula – Salah satu jenis rumput yang baik untuk diberikan pada ternak adalah rumput gajah odot. Rumput odot memiliki beberapa keunggulan yaitu batangnya relatif pendek, pertumbuhannya relatif cepat, lebih disukai oleh ruminansia, daunnya lembut dan tidak berbuku, dapat beradaptasi dengan lahan, dapat tumbuh sekitar 50-80 batang dalam satu rumpun dan yang penting tidak memerlukan perawatan yang khusus. Selain memiliki keunggulan tersebut, rumput odot memiliki kandungan nutrusu yang cukup baik yaitu kadar lemak daun 2.72%, kadar lemak batang 0.91%, CP daun 14.35%, CP batang 8.1 %, Digestibility daun 72.68%, digestibility batang 62.56%, dan protein kasar 14%.

Saat ini rumput odot banyak dibudidayakan untuk pakan hijauan ternak mereka seperti untuk kambing, sapi, kelinci atau kerbau. Nah kali ini kita akan membahas tentang cara menanam rumput odot atau budidaya rumput odot. Berikut selengkapnya:

Cara Menanam Rumput Odot

Pembibitan Rumput Odot

Bibit rumput odot berasal dari stek, bibit tersebut dipotong sepanjang 15 cm hingga 25 cm selanjutnya dibenamkan ke lahan, sebelum dilakukan penanaman sebelumnya lakukan pemupukan dasar pada lahan dengan menggunakan pupuk kandang dan lokasi tanam rumput odot tersebut mendapat sinar matahari yang cukup.

Pola Tanam Rumput Odot

Rumput odot dapat ditanam dengan pola mono kultur atau dalam lahan hanya ditanami rumput odot saja. Namun rumput odot ini dapat ditanam sebagai tanaman sela yang dikombinasikan dengan hijauan lain karena tanaman ini memiliki ukuran lebih pendek, rumput odot ini dapat digunakan untuk menahan erosi lahan.

Cara Penanaman Rumput Odot

Pertama bersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu lainnya. Selanjutnya buatlah gundukan atau bedengan dengan lebar sekitar 60 cm-80 cm dan tinggi sekitar 20 cm. Pada setiap gundukan ditanam bibit minimal 3 ruas dan 2 ruas ditanam di dalam tanah di tengah gundukan jarak tanaman dalam barisan yaitu 50 cm – 75 cm, jarak tanam antar baris yaitu sekitar 75 cm hingga 150 cm.

Pemupukan Rumput Odot

Untuk pemupukan dasar, berikan pupuk kandang sekitar 3 ton per hektar lahan. Untuk mempercepat pertumbuhan rumput odot dapat diberi pupuk kembali setelah berumur sekitar 15 hari setelah tanam dengan menggunaan NPK sebanyak 60 kg/hektar dan pupuk cair atau urin kambing fermentasi digunakan bahan pupuk cair untuk pemupukan dengan aplikasi disemprotkan ke tanaman tanah.

Pemanenan rumput Odot

Rumput odot dapat dipanen setelah berumur sekitar 70 hari hingga 80 hari. Ciri rumpur odot yang siap panen yaitu terdapat ruas batang telah berukuran 15 cm. Umur panen pada musim penghujan yaitu 35-45 hari, pada musim kemarau yaitu 40-50 hari. Cara pemanenan rumput ini yaitu dengan memotong rumput pendek sejajar dengan tanah. Namun disarankan untuk pemanenan pertama kali dipanena setelah 60 hari atau lebih atau tunggu hingga batangnya berukuran sekitar 30 cm hingga 40 cm.

Demikian artikel pembahasan tentang”Cara Menanam dan Budidaya Rumput Odot Untuk Pakan Ternak“, semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan kami berikutnya. Sampai jumpa

7 Pakan Kelinci Terbaik dan Cara Pemberiannya

Salah satu hal wajib bagi peternak jika ingin menekuni usaha ternak kelinci yakni mengetahui pakan kelinci terbaik dan cara pemberiannya.  Hal ini sangat diperlukan agar pertumbuhan kelinci normal serta hasil budi daya lebih optimal.

Pakan di habitat aslinya, kelinci mengonsumsi biji-bijian, rumput-rumputan, dan daun-daunan sehingga kelinci yang dipelihara perlu mendapatkan pakan yang sesuai dengan kebutuhannya. Dalam pakannya, kelinci membutuhkan zat-zat makanan seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.

Di sini kami akan mengulas pakan yang disenangi kelinci, bahan utamanya mudah ditemukan, bernilai ekonomis rendah, serta mengandung zat makanan yang dibutuhkan oleh kelinci.

7 Pakan Kelinci Terbaik dan Cara Pemberiannya

1. Air Susu Induk

Air susu induk merupakan pakan alami terbaik karena memiliki zat paling lengkap serta cocok dan tepat untuk anak kelinci yang masih menyusu.

Air susu induk lebih bagus jika dibandingkan dengan susu sapi, air susu induk memiliki kandungan bahan kering lebih banyak dua kali lipat, lemak dan protein empat kali lebih besar, abu / mineral lebih banyak tiga kali lipat. Selain itu, laktosa hanya satu per enam (1/6) dari air susu sapi.

2. Hijauan

Termasuk pakan kelinci hijauan di antaranya rumput lapangan, daun kacang panjang, daun lamtoro, daun duri, daun kembang sepatu, daun ubi jalar, daun pepaya, daun jakung, dan daun kacang tanah.

Sisa-sisa atau limbah sayuran seperti wortel, selada, kangkung, kol, sawi, caisim, atau daun singkong juga termasuk dalam pakan jenis ini.

Cara pemberiannya yakni pakan hijau segar diberikan secukupnya setelah dilayukan.  Pelayuan ini dimaksudkan agar supaya kadar air dalam pakan hijau segar berkurang. Jika hal ini tidak dilakukan, urine kelinci dapat berbau serta menyengat, menyebabkan mencret, perut kelinci gembung, gatal-gatal dan scabies, serta dapat mengakibatkan kematian pada kelinci budi daya karena keracunan.

3. Biji-Bijian

Pakan kelinci yang berbentuk biji-bijian seperti jagung, padi, gandum, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Pakan biji-bijian ini termasuk dalam salah satu pakan terbaik kelinci karena pakan jenis ini mempunyai protein tinggi.

Jika harga cukup mahal, kita dapat menggantinya dengan pakan alternatif seperti bungkil kelapa, dedak, bekatul, bungkil tahu, atau bungkil kacang tanah.

Cara pemberian jenis pakan ini sebaiknya ditumbuk terlebih dahulu, setelah itu baru diberikan ke kelinci sebanyak 150-250 gram per ekor dalam satu hari.

4. Jerami Kering

Jerami kering merupakan salah satu pakan serat kasar yang dapat mencegah gigi kelinci tumbuh lebih cepat. Pakan jenis ini bisa menjadi pilihan baik untuk kelinci.

5. Hay

Hay merupakan rumput yang dipotong menjelang berbunga, lalu diawetkan dengan cara dikeringkan secara bertahap agar supaya kandungan gizinya tidak rusak serta kadar serat kasarnya tinggi.

Rumput yang bagus dijadikan bay di antaranya rumput gajah, daun duri, rumput lapangan, pucuk tebu, batang jagung, dan daun kacang-kacangan.

Rumput awetkan ini rasanya manis, sehingga cocok untuk kelinci yang menyenangi rasa ini. Ampas tebu yang direndam selama 24 jam dan telah difermentasikan dengan molase juga bisa diberikan kepada kelinci.

Jika kelinci mengalami gangguan seperti mencret, disarankan segara menghentikan pemberian hijauan dan menggantikannya dengan bay dalam jumlah banyak.

Beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai pakan kelinci (Bay):

Bahan Protein (%) Lemak (%)
Daun Lamtoro 12 6,5
Rumput Kalamenta 10,26 1,46
Daun Kacang Tanah 16,59 2,90
Daun Pisang 16,81 5,90
Daun Dadap 27,15 2,91
Daun Turi Merah 31,68 7,05
Daun Duri Putih 40,62 5,65
Jerami Jagung 5,57 1,25
Rumput Jampang 8,29 1,01
Rumput Cakar Ayam 8,44 1,47
Rumput Ginting 8,67 1,22
Jerami Padi 9,83 2,15

 

6. Umbi-Umbian

Selain itu, umbi-umbian merupakan salah satu alternatif pakan kelinci terbaik. Jenis pakan ini termasuk di antaranya talas, ubi jalar, singkong rebus, dan jenis umbi-umbian lainnya. Pakan jenis ini juga juga oleh peternak kelinci sebagai pakan tambahan.

7. Konsentrat

Pakan konsentrat berfungsi meningkatkan nilai gizi dan penguat pakan pokok kelinci yang berupa hijauan. Keuntungan jenis pakan ini yakni mudah didapatkan di pasaran.

Pakan konsentrat ini terdiri dari pelet atau pakan pabrikan, bekatul, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas tapioca, atau bungkil kacang tanah. Jika nutrisi dalam pelet sudah mencukupi kebutuhan kelinci, pakan hijauan tidak perlu lagi diberikan.

Kesimpulan

Ada beberapa jenis pakan kelinci terbaik, bisa sebagai pakan pokok seperti hijauan, pakan tambahan maupun sebagai makanan alternatif. Beberapa pakan sangat mudah didapatkan di pasaran dengan harga yang terjangkau.

Teknologi Pakan Sapi Berbasis Limbah Kelapa Sawit

Perkembangan luasan perkebunan kelapa sawit di Kepulauan Bangka Belitung mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun, dimana kebun kelapa sawit rakyat pada tahun 2010 tercatat 44 ribu Ha (BPS, 2011) dengan jumlah produksi TBS 52 ribu ton, pada tahun 2016 tumbuh menjadi 64,13 ribu Ha dengan produksi TBS 120,22 ribu ton (BPS, 2017). Kebun kelapa sawit ini mempunyai potensi biomassa yang melimpah sebagai sumber pakan ternak antara lain pelepah sawit dan hijauan dibawah tanaman kelapa sawit. Selain itu juga terdapat 42 perusahaan pengolahan kelapa sawit di Kepulauan Bangka Belitung yang mendukung pakan dari hasil samping industri kelapa sawit berupa lumpur sawit (solid decanter), bungkil inti sawit (palm kernel cake) dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.

Perbandingan nutrisi pelepah sawit, lumpur sawit, bungkil inti sawit dan rumput liar

No Uraian Bahan kering Serat kasar Protein kasar Lemak kasar  
    % bahan kering
1 Pelepah 26,07 50,94 5,10 1,01  
2 Lumpur sawit/ solid 24,08 35,88 14,40 14,78  
3 Bungkil inti sawit 91,83 36,68 18,15 6,49  
4 Rumput liar 18,00 28,38 10,68 1,74  

 

Rata-rata satu hektar lahan kelapa sawit ditanami 130 pohon, dan setiap pohon menghasilkan 22 pelepah/ tahun. Setiap pelepah yang rata-rata bobotnya 5 kg. Dalam satu hektar lahan kelapa sawit produktif dapat menghasilkan 9 ton pelepah segar setiap tahun atau setara dengan 0,66 ton bahan kering per tahun. Sementara Satu ekor sapi Bali dewasa dengan bobot hidup 250 kg membutuhkan bahan kering 8,75 kg/hari.

Lumpur sawit (solid decanter) merupakan limbah sawit yang paling disukai oleh ternak sapi diantara limbah sawit lainnya. Solid dapat diberikan pada sapi dalam bentuk segar maupun difermantasi bersama bahan lain.

Bungkil inti sawit merupakan bahan baku pakan yang cukup potensial sebagai sumber protein berkisar 18-22%. Salah satu kelemahan dari bungkil inti sawit untuk digunakan sebagai bahan baku pakan ternak adalah nilai palatabilitasnya yang relatif rendah disebabkan kandungan serat lebih tinggi dibandingkan bahan pakan sumber protein lainnya. Pemberian bungkil inti sawit tidak direkomendasikan dalam bentuk tunggal karena dapat mengganggu organ pencernaan sapi, tetapi dianjurkan bersamaan dengan bahan pakan lain.

Teknologi Pakan Sapi Berbasis Limbah Kelapa Sawit

Teknologi pakan sapi berbasis limbah kelapa sawit ini telah diterapkan di Kepulauan Bangka Belitung antara lain di Kelompok Tani Tunas Baru Kelurahan Sungai Selan, Poktan Semoga Jaya Desa Lubuk Besar, dan Kebun Percobaan Petaling BPTP Kep. Bangka Belitung. Pelepah dan daun kelapa sawit yang dirajang, kemudian dicampur dengan bungkil inti sawit, dan dedak padi diperoleh skor kondisi tubuh sapi Bali 3,21 (skala 1-5) di Sungai Selan Kabupaten Bangka Tengah, pertambahan bobot harian sapi Bali 0,45 kg/hari di KP Petaling, 0,42 kg/hari di Lubuk Besar.

Berikut ini ditampilkan berbagai komposisi ransum pakan sapi dari limbah kelapa sawit yang bisa sebagai acuan bagi peternak.

Parameter Tunas Baru KP Petaling Semoga Jaya
% bahan kering
Bahan pakan      
Pelepah sawit 70 30 40
Rumput 40 50
Bungkil sawit 20 10 8.4
Dedak padi 8.4 18.4
Kapur 0.8 0.8 0.8
Garam 0.8 0.8 0.8
       
Performan      
Skor kondisi tubuh (skala 1-5) 3.44 3,02 2,87
PBHH Penggemukan (kg/hari) 0.60 0,45 0,42
Calving rate (%) 75,88 72,22 70,83
Calving interval (bulan) 13,97 13,11 13,41
       
Pendapatan      
Harga Pakan/ dalam BK (Rp/kg) 592 600,00 580,00
Biaya pakan bulanan (Rp/bulan/ekor) 98.839 168.779 168.669
Pendapatan bersih (Rp/bulan/ekor) 568.095 429.104 472.581

 

sumber:

https://babel.litbang.pertanian.go.id/index.php/sdm-2/15-info-teknologi/690-teknologi-pakan-sapi-berbasis-limbah-kelapa-sawit

Fermentasi Pelepah Sawit Untuk Pakan Ternak Sapi

Perkebunan Sawit saat ini khususnya di kepulauan Bangka Belitung yang semakin tahun semakin berkembang baik perkebunan rakyat maupun skala industri. Salah Satu hasil sampingan atau bisa dikatakan limbah dari perkebunan kelapa sawit adalah Pelepah Daun Sawit yang cukup melimpah dan bias dimanfaatkan sebagai Pakan Ternak. Pelepah Sawit Sendiri Mempunyai kandungan nutrisi yaitu BK 26.5 %, SK 50,94 %, PK 5,10 % dan LK 1 %.

Pelepah Sawit Untuk Pakan Ternak

Di Kebun Percobaan Petaling kami mencoba memanfaatkan Pelepah Sawit tersebut sebagai Pakan Ternak Sapi dengan memproses pelepah sawit melalui Fermentasi dengan tujuan meningkatkan nilai gizi dan mempermudah dalam penyimpanan stock pelepah sawit yang tersedia. Kegiatan ini juga untuk menunjang Sistem Integrasi Sapi Sawit.

Adapun Formulasi dari Fermentasi Pelepah Sawit Tersebut adalah :

Bahan Pakan Utama % Keterangan
Pelepah Sawit 70
Bungkil Sawit 20
Dedak 10
Bahan Tambahan
Molases 3 % dari total Bahan
Garam 1 % dari total Bahan
Bakteri Starter 1 tutup botol untuk 10 L air Menggunakan Produk EM4

Proses Pembuatan Fermentasi Pelepah Sawit :

  1. Potong-potong pelepah sawit dengan Mesin Choper
  2. Buat larutan Probiotik atau Starter dengan mencampurkan Molases dengan bakteri starter dan Air (1 liter Molases ditambahkan air sebanyak 10 liter) untuk starter sesuai kebutuhan dan diamkan selama 15 menit
  3. Campur Bahan-bahan pakan tersebut seperti Pelepah Sawit, Bungkil sawit dan Dedak (bagian yang paling banyak ada dipaling bawah)
  4. Siram campuran bahan-bahan tersebut dengan menggunakan larutan Probiotik tersebut sampai rata bisa menggunakan Gembor Air kemudian Aduk sampai rata.
  5. Jika Bahan-bahan tersebut dalam Jumlah besar, proses pencampurannya bisa menggunakan teknik lapisan-lapisan yaitu buat campuran Pelepah, Bungkil dan Dedak setinggi 10-15 cm dan siram dengan larutan Probiotik kemudian buat lapisan diatasnya dengan proses yang sama sampai bahan habis kemudian baru diaduk secara merata.
  6. Masukkan Campuran tersebut kedalam Drum Palstik/Silo dengan memadatkannya agar tidak ada udara kemudian tutup dengan Plastik.
  7. Fermentasi secara Anaerob selama kurang lebih 7-14 hari dan pakan siap diberikan kepada sapi.

https://babel.litbang.pertanian.go.id/index.php/sdm-2/15-info-teknologi/702-fermentasi-pelepah-sawit-untuk-pakan-ternak-sapi